Minggu, 18 Desember 2016

Apa yang dituliskan Setia Naka Andrian mengenai penghilangan UN atau penggantian UN dengan ujian-ujian lain saya menanggapinya dengan sangat setuju, mengapa demikian karena saya juga merasakan bagaimana dahulu begitu menakutkannya UN, terlebih lagi waktu sekolah dasar, sampai-sampai ibu saya pun menyuruh untuk mengikuti kegiatan les privat agar memperoleh nilai yang baik. Selain itu ada juga semacam politik gengsi atau mencari nama sekolah mana yang muridnya memperoleh nilai UN tertinggi berarti itu sekolah yang baik, padahal belum tentu karena gurunya pun bisa saja mencampuri urusan siswanya agar bisa menaikan derajat sekolahnya. Penulis juga mengatakan tentang seakan-akan tidak terlalu pentingnya mata pelajaran yang tidak masuk dalam ujian nasional padahalkan semua mata pelajaran itu penting toh belum tentu juga yang di UN kan menjadi dasar kita berkehidupan nanti. 
Mengenai pengganti UN jika ditiadakan mungkin pemerintah sudah mempunyai solusi sendiri mengenai itu, pada dasarnya kurikulum saja bisa berubah-ubah seiring dengan berjalannya waktu, mengapa UN tidak demikian, kita bisa saja meniru negara-negara lain yang menetukan kelulusan siswanya tidak menggunakan UN, tetapi negara tersebut masih saja bisa berkembang dalam dunia pendidikan dalam hal ini adalah negara Jepang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar