SEPUCUK SURAT UNTUK PAK DOSEN
OLEH LAZUARDI INSAN
Selamat malam juga bapak Setia Naka Andrian selaku
dosen Penulisan Media Masa dan Membaca Teknik dan Pemahaman, kabar saya hari
kemarin, sekarang, masih baik-baik saja, namun untuk rencana hari berikutnya
entahlah mungkin baru fatamorgana. Bagaimana dengan kabar bapak ? apakah
paginya masih dibuat jengkel oleh segelas kopi yang airnya tidak beraturan?
semoga saja tidak demikian.
Baiklah pak, bagi saya surat ini tidak terlalu
membebani apalagi emosi, tenang saja saya menerima dengan lapangan dada. Untuk
masalah menyesal tidak bertemu bapak minggu ini saya juga meneysal karena
sedikit mengurangi ilmu bapak yang selalu diberi kepada kami.
Kenapa bapak muram saat menulis surat ini ?
mungkin bapak belum minum kopi buatan istri yang nikmatnya tanpa jeda dan tanpa
tetapi. Sebelumnya saya juga ucapkan terimakasih karena bapak tidak berbohong
kepada kami yang sebenarnya sangat mudah dibohongi.
Alhamdulillah saya sudah sedikit bahagia mengingat
semua tugas sudah dikerjakan apa adanya. Santai saja pak kami selalu
mengizinkan bapak, yaa saya tahu menghadiri sebuah acara itu perlu apalagi
dosen sastra seperti bapak, mungkin ini sudah kewajiban. Terus bagaimana dengan
hasil acara musyawarah sastrawan di Badan Bahasa Jakarta ? apakah bapak gembira
dengan itu ? atau mungkin sedikit kecewa
? semoga saja bapak bisa menceritaknnya di pertemuan selanjutnya.
Begini bapak dosenku yang selalu memberi ilmu.
Bagi saya untuk masalah membaca saya tidak sukar, saya juga sudah membaca
beberapa novel meskipun itu tentang cinta setidaknya itu modal awal saya untuk
tidak malas membaca. hanya saja saya bingung jika menekuni bidang sesuatu harus
mulai darimana dulu, apakah mulai dari koran ? novel ? atau bahkan cerpen
anak-anak ? saya sebenarnya ingin seperti bapak yang tulisannya sudah masuk
media masa mana saja. Saya juga ingin sekali mengobrol dengan bapak tentang
bagaimana membuat puisi bagaimana membuat esai atau opini intinya saya ingin
bisa menulis, untuk mengutarakan ini saya hanya bisa berbicara dalam hati
mulut dan tangan tidak bisa bekerja sama
menyuarakannya. Malu yang saya rasakan untuk bertemu apa lagi meminta ilmu,
saya juga pernah berfikiran ketika selesai perkuliahan menemui bapak dan
meminta waktu untuk sekedar minum kopi dan mengutarakan isi hati, tapi apa daya
hanya kata ah sudahlah yang ada di otak saya.
Namun jika
masalah berbicara, apalagi didepan kelas sebenarnya saya tidak terlalu
menginkan karena menurut saya, iyaa memang setidaknya itu menambah nilai tapi
entahlah terkadang rasa malas dan bingung ketika di depan untuk berbicara apa,
itu salah satu alasannya. Bertanya di ddalam kelas pun saya bingung harus
bertanya apa, karena saya tidak terbiasa untuk bertnya dalam situasi formal
kecuali itu sangat mendesak dan saya masih sangat bingung dengan sesuatu.
Maaf juga pak, bagi saya membeli koran atau
memborong koran dan apa saja itu hanya faktor malas saja mungkin itu yang
membuat bapak harus memaksa kepada setiap mahasiswa. Karena saya yakin perintah
bapak tak lekang dengan usaha bapak untuk meningkatkan rasa gemar membaca.
Santai saja kami tidak mengomel apalagi sampai memecah piring, saya hanya
tertawa sampai sebegitunya bapak bisa berfikiran.
Okelah pak surat ini sudah saya letakan di dalam
amplop dan sudah saya segel dengan kertas minyak, maaf pak saya tidak sopan
tapi saya hanya ingin tidak terlalu mainstream. Mengenai pertanyaan bapak
apasih niatan kalian ingin bertahan hidup ? bagai saya niatan untuk bertahan
hidup ingin menaikan derjat orang tua, saya tidak mau hanya berpangku tangan
kepada mereka, saya ingin orang tua saya tidak di pandang sebelah mata hanya
karena anaknya bersekolah di sekolah swasta, padahal tidak berdoasakan sekolah
di swasta ? saya ingin menunjukan bahwa di swasta pun bisa meninggikan derajat mereka.
Maaf pak saya terlalu lancang cerita ini. Selain itu juga saya berkeinginan
menjadi yang leih baik dari sebelumnya. Jika motivasi saya kuliah, ya mungkin
sama seperti yang saya ceritakan tadi. Kalo masalah berbicara didalam kelas,
maaf pak saya selalu hitmat dalam mengikuti perkuliahan bapak, sampai-samapai
suruh bertanya pun saya hanya menoleh kesamping kanan dan kekiri.
Bapak Setia Naka Andrian yang selalu memberi kami
tugas dan hiburan, saya sudah membaca 2 buku novel yang pertama Destilasi
Alkena karya Wiranegara dan yang ke dua Garis Waktu milik Fiersa Besari dalam
kurun waktu satu minggu, kalo untuk koran saya sudah menyimak 3 koran dan jika
majalah saya belum menyentuhnya sama sekali. Baiklah saya akan menuruti
perintah bapak saya akan mencoba menggali diri saya, mencoba mencari apa sih
yang keren didalam diri saya, apa sih yang bisa dibanggakan dalam diri saya,
saya akan coba itu.
Di temani secangkir kopi dan beberapa batang rokok
saya membalas surat bapak dengan sangat tenang, toh untuk apa terlalu
dipikirkan ini hanya membalas surat bukan membuat esai atau opini. Maaf pak
saya hanya bercanda. Sebelumnya saya ingin mengucapkan terimakasih kepada bapak
yang rela memberikan waktunya untuk menulis surat ini, mungkin jika tidak ada
surat seperti ini saya tidak bisa menyuarakan isi hati saya yang selalu teriak
ingin bersanding dengan bapak meminta ilmu agar bisa menulis.
Harapan saya setelah ini saya bisa bertemu dengan
bapak untuk ngaji ngopi ngudud dan apa itulah yang intinya itu, semoga bapak
berkenan dan bapak bisa menanggapi apa isi balasan surat ini. Sepertinya saya
juga sudah terlalu panjang membalas surat ini, toh yang bapak minimalkan sama
dengan surat bapak, saya hanya menyeragamkan diri untuk tidak berlebih meskipun
berlebih sangat diperbolehkan. Sebelum saya mengakhiri saya ingin bapak membaca
tulisan ini karena saya malu jika di kelas untuk memberanikan diri maju kedepan
menghampiri bapak dan meminta waktu bapak hanya untuk sharing masalah ini.
Terimakasih Bapak Setia Naka Andrian seorang penyair dan Dosen Universitas PGRI
Semarang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar