Rabu, 21 Desember 2016

SEPUCUK SURAT UNTUK PAK DOSEN
OLEH LAZUARDI INSAN

Selamat malam juga bapak Setia Naka Andrian selaku dosen Penulisan Media Masa dan Membaca Teknik dan Pemahaman, kabar saya hari kemarin, sekarang, masih baik-baik saja, namun untuk rencana hari berikutnya entahlah mungkin baru fatamorgana. Bagaimana dengan kabar bapak ? apakah paginya masih dibuat jengkel oleh segelas kopi yang airnya tidak beraturan? semoga saja tidak  demikian.
Baiklah pak, bagi saya surat ini tidak terlalu membebani apalagi emosi, tenang saja saya menerima dengan lapangan dada. Untuk masalah menyesal tidak bertemu bapak minggu ini saya juga meneysal karena sedikit mengurangi ilmu bapak yang selalu diberi kepada kami.
Kenapa bapak muram saat menulis surat ini ? mungkin bapak belum minum kopi buatan istri yang nikmatnya tanpa jeda dan tanpa tetapi. Sebelumnya saya juga ucapkan terimakasih karena bapak tidak berbohong kepada kami yang sebenarnya sangat mudah dibohongi.
Alhamdulillah saya sudah sedikit bahagia mengingat semua tugas sudah dikerjakan apa adanya. Santai saja pak kami selalu mengizinkan bapak, yaa saya tahu menghadiri sebuah acara itu perlu apalagi dosen sastra seperti bapak, mungkin ini sudah kewajiban. Terus bagaimana dengan hasil acara musyawarah sastrawan di Badan Bahasa Jakarta ? apakah bapak gembira dengan itu ?  atau mungkin sedikit kecewa ? semoga saja bapak bisa menceritaknnya di pertemuan selanjutnya.
Begini bapak dosenku yang selalu memberi ilmu. Bagi saya untuk masalah membaca saya tidak sukar, saya juga sudah membaca beberapa novel meskipun itu tentang cinta setidaknya itu modal awal saya untuk tidak malas membaca. hanya saja saya bingung jika menekuni bidang sesuatu harus mulai darimana dulu, apakah mulai dari koran ? novel ? atau bahkan cerpen anak-anak ? saya sebenarnya ingin seperti bapak yang tulisannya sudah masuk media masa mana saja. Saya juga ingin sekali mengobrol dengan bapak tentang bagaimana membuat puisi bagaimana membuat esai atau opini intinya saya ingin bisa menulis, untuk mengutarakan ini saya hanya bisa berbicara dalam hati mulut  dan tangan tidak bisa bekerja sama menyuarakannya. Malu yang saya rasakan untuk bertemu apa lagi meminta ilmu, saya juga pernah berfikiran ketika selesai perkuliahan menemui bapak dan meminta waktu untuk sekedar minum kopi dan mengutarakan isi hati, tapi apa daya hanya kata ah sudahlah yang ada di otak saya.
 Namun jika masalah berbicara, apalagi didepan kelas sebenarnya saya tidak terlalu menginkan karena menurut saya, iyaa memang setidaknya itu menambah nilai tapi entahlah terkadang rasa malas dan bingung ketika di depan untuk berbicara apa, itu salah satu alasannya. Bertanya di ddalam kelas pun saya bingung harus bertanya apa, karena saya tidak terbiasa untuk bertnya dalam situasi formal kecuali itu sangat mendesak dan saya masih sangat bingung dengan sesuatu.
Maaf juga pak, bagi saya membeli koran atau memborong koran dan apa saja itu hanya faktor malas saja mungkin itu yang membuat bapak harus memaksa kepada setiap mahasiswa. Karena saya yakin perintah bapak tak lekang dengan usaha bapak untuk meningkatkan rasa gemar membaca. Santai saja kami tidak mengomel apalagi sampai memecah piring, saya hanya tertawa sampai sebegitunya bapak bisa berfikiran.
Okelah pak surat ini sudah saya letakan di dalam amplop dan sudah saya segel dengan kertas minyak, maaf pak saya tidak sopan tapi saya hanya ingin tidak terlalu mainstream. Mengenai pertanyaan bapak apasih niatan kalian ingin bertahan hidup ? bagai saya niatan untuk bertahan hidup ingin menaikan derjat orang tua, saya tidak mau hanya berpangku tangan kepada mereka, saya ingin orang tua saya tidak di pandang sebelah mata hanya karena anaknya bersekolah di sekolah swasta, padahal tidak berdoasakan sekolah di swasta ? saya ingin menunjukan bahwa di swasta pun bisa meninggikan derajat mereka. Maaf pak saya terlalu lancang cerita ini. Selain itu juga saya berkeinginan menjadi yang leih baik dari sebelumnya. Jika motivasi saya kuliah, ya mungkin sama seperti yang saya ceritakan tadi. Kalo masalah berbicara didalam kelas, maaf pak saya selalu hitmat dalam mengikuti perkuliahan bapak, sampai-samapai suruh bertanya pun saya hanya menoleh kesamping kanan dan kekiri.
Bapak Setia Naka Andrian yang selalu memberi kami tugas dan hiburan, saya sudah membaca 2 buku novel yang pertama Destilasi Alkena karya Wiranegara dan yang ke dua Garis Waktu milik Fiersa Besari dalam kurun waktu satu minggu, kalo untuk koran saya sudah menyimak 3 koran dan jika majalah saya belum menyentuhnya sama sekali. Baiklah saya akan menuruti perintah bapak saya akan mencoba menggali diri saya, mencoba mencari apa sih yang keren didalam diri saya, apa sih yang bisa dibanggakan dalam diri saya, saya akan coba itu.
Di temani secangkir kopi dan beberapa batang rokok saya membalas surat bapak dengan sangat tenang, toh untuk apa terlalu dipikirkan ini hanya membalas surat bukan membuat esai atau opini. Maaf pak saya hanya bercanda. Sebelumnya saya ingin mengucapkan terimakasih kepada bapak yang rela memberikan waktunya untuk menulis surat ini, mungkin jika tidak ada surat seperti ini saya tidak bisa menyuarakan isi hati saya yang selalu teriak ingin bersanding dengan bapak meminta ilmu agar bisa menulis.
Harapan saya setelah ini saya bisa bertemu dengan bapak untuk ngaji ngopi ngudud dan apa itulah yang intinya itu, semoga bapak berkenan dan bapak bisa menanggapi apa isi balasan surat ini. Sepertinya saya juga sudah terlalu panjang membalas surat ini, toh yang bapak minimalkan sama dengan surat bapak, saya hanya menyeragamkan diri untuk tidak berlebih meskipun berlebih sangat diperbolehkan. Sebelum saya mengakhiri saya ingin bapak membaca tulisan ini karena saya malu jika di kelas untuk memberanikan diri maju kedepan menghampiri bapak dan meminta waktu bapak hanya untuk sharing masalah ini. Terimakasih Bapak Setia Naka Andrian seorang penyair dan Dosen Universitas PGRI Semarang



Tidak ada komentar:

Posting Komentar