Rabu, 21 Desember 2016

NASIONALISME DAN BUDAYA
Oleh : Lazuardi Insan


Sekilas Tentang Pemuda
Pemuda indonesia harus mempunyai jati diri tersendiri, pemuda indonesia harus mempunyai jiwa nasionalisme yang tinggi, pemuda indonesia harus mempunyai semangat yang tak bertepi namun itu dahulu, karena pada zaman sekarang banyak para pemuda yang melupakan jasa pahlawannya yang dulu begitu gigih memperjuangkan cita-cita bangsa agar menjadi negara yang merdeka. Pada tanggal 28 Oktober adalah hari sumpah pemuda dimana kala itu para pemuda berkumpul dalam sebuah acara kongres pemuda II untuk membahas tentang pengakuan dari pemuda pemudi indonesia yang mengikrarkan sumpah satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Kongres itu  dihadiri oleh beberapa organisasi pemuda diantaranya Jong Java, Jong Batak, Jong, Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dsb serta pengamat dari pemuda tiong hoa seperti Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie. 
Setelah  menengok sedikit tentang bagaimana terjadinya peristiwa sumpah pemuda, seharusnya kita sebagai pemuda sudah mulai berfikir untuk menghargai jasa para pahlawan, untuk meneruskan cita-cita pahlawan, untuk membuktikan bahwa kita  adalah para generasi penerus bangsa yang rupawan, seperti apa yang dikatakan oleh Bung Karno  “ Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”
 Untuk itu pada tanggal 28 Oktober 2016 UKM Teater Gema  Universitas PGRI Semarang mengadakan sebuah acara yang bertajuk memperingati Hari Sumpah Pemuda, acara itu diisi dengan berbagai kegiatan yang pertama sebuah orasi yang menyuarakan tentang perjuangan pemuda pada masa kemerdekaan. Acara itu bertempatkan di halaman parkir Gedung Utama Universitas PGRI Semarang pada pukul 09.00, peringatan sumpah pemuda itu baru dihadiri oleh beberapa mahasiswa saja karena puncak acara tersebut akan diadakan pada malam harinya.
Upgris mengadakan acara seperti ini bukan semena-semena hanya untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda melainkan untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme yang mulai hilang di kalangan mahasiswa, selain itu orasi ini juga menyampaikan beberapa pesan tentang bagaimana perihnya perjuangan para pahlwan kita ketika dahulu bergelut dengan para penjajah, ketika orasi para mahasiswa begitu lantang meneriakan orasinya seakan-akan mereka ikut serta dalam perang. Sebelum diadakannya acara ini Upgris juga mengadakan acara untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda yang juga disebut sebagai Bulan Bahasa
Bulan Bahasa
            Merupakan bagian dari Hari Sumpah Pemuda. Kenapa dinamakan bulan bahasa karena pada tanggal 28 Oktober 1928 para pendahulu kita mencetuskan atau mengikrarkan sumpah pemuda, dimana disebutkan  pada butir ketiga “ Kami Putra-Putri Indonesia Menjungjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia”. Oleh karena itu bulan Oktober adalah bulan yang ditunggu-tunggu oleh pecinta bahasa maupun sastra karena disitu para penikmat bahasa dan sastra bisa mnegadakan acara-acara yang bertajuk tentang bahasa.
            Dalam hal ini tak ketinggalan pula Upgris, salah satu universitas di Indonesia yang memiliki fakultas bahasa dan seni ikut memeriahkan datangnya bulan bahasa. Upgris menyambut bulan ini dengan berbagai kegiatan yang pertama adalah Upgris Bersastra dimana disitu di kumpulkan para sastrawan untuk membedah buku milik Triyanto Triwikromo. Untuk acara yang kedua adalah Festival Bulan Bahasa, acara ini dilaksanakan pada tanggal 27 Oktober 2016 di Balairung peringatan bulan bahasa ini dimulai pada pukul 09.00 yang dibuka dan sekligus sebagai simbol penutupan acara bulan bahasa oleh Rektor Upgris bapak Muhdi dengan bermain alunan musik perkusi dari tong sampah.
            Acara ini sangat meriah selain para mahasiswa yang memadati ruangan para dosen pun ikut berkumpul menghadiri atau hanya sekedar menikmati runtutan kegiatan, dimana kegiatan itu berupa pentas seni yang ditampilkan oleh kelompok-kelompok mahasiswa dari Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang. Sebenarnya festival bulan bahasa ini dilombakan, jadi para mahasiswa berlomba-lomba menunjukan kreatifitasntya masing-masing untuk merebutkan juara.
Selain para mahasiswa yang tampil berlomba ada juga mahasiswa dari UKM Gisma ikut berpartisipasi dalam acara ini, mereka kompak berseragam budaya dari berbagai daerah di Indonesia UKM Gisma juga memberikan hiburan sebuah nyanyian dari lagu Indonesia Raya, Lagu Nasional hingga Lagu Daerah.  Ada juga kelompok drama dari progdi Pendidikan Bahasa Jawa menampilkan drama lawakan yang kemarin di pentaskan pada salah satu acara seni bermain peran di Semarang.
Festival bulan bahasa ini sangat meriah, para penonton sangat antusias dan sangat hitmat menikmati acara ini sampai dengan acara puncak pengumuman pemenang lomba festval bulan bahasa. Kelompok dari progdi Pendidikan Bahasa Jawa yang menjadi juaranya. Bersama alunan musik dangdut acara ini resmi untuk ditutup. Sebenarnya sangat penting kegiatan untuk memperingati hari besar seperti ini.
Sebuah Harapan
Semoga saja Upgris senantiasa mengadakan kegiatan-kegiatan seperti secara rutin, selain sebuah agenda acara seperti merupakan salah satu cara untuk meningkatkan rasa peduli mahasiswa terhadap budaya dan rasa nasionalisme, selain itu bentuk perlawanan atau menyuarakan pendapat bisa tersampaikan. Bersama ini pula penuh harap kepada para muda-mudi untuk melestarikan budaya Indonesia dan menghargai jasa para pahlawan. Untuk itu mari kita bersama-sama hargai dan teruskan cita-cita bangsa.


SEPUCUK SURAT UNTUK PAK DOSEN
OLEH LAZUARDI INSAN

Selamat malam juga bapak Setia Naka Andrian selaku dosen Penulisan Media Masa dan Membaca Teknik dan Pemahaman, kabar saya hari kemarin, sekarang, masih baik-baik saja, namun untuk rencana hari berikutnya entahlah mungkin baru fatamorgana. Bagaimana dengan kabar bapak ? apakah paginya masih dibuat jengkel oleh segelas kopi yang airnya tidak beraturan? semoga saja tidak  demikian.
Baiklah pak, bagi saya surat ini tidak terlalu membebani apalagi emosi, tenang saja saya menerima dengan lapangan dada. Untuk masalah menyesal tidak bertemu bapak minggu ini saya juga meneysal karena sedikit mengurangi ilmu bapak yang selalu diberi kepada kami.
Kenapa bapak muram saat menulis surat ini ? mungkin bapak belum minum kopi buatan istri yang nikmatnya tanpa jeda dan tanpa tetapi. Sebelumnya saya juga ucapkan terimakasih karena bapak tidak berbohong kepada kami yang sebenarnya sangat mudah dibohongi.
Alhamdulillah saya sudah sedikit bahagia mengingat semua tugas sudah dikerjakan apa adanya. Santai saja pak kami selalu mengizinkan bapak, yaa saya tahu menghadiri sebuah acara itu perlu apalagi dosen sastra seperti bapak, mungkin ini sudah kewajiban. Terus bagaimana dengan hasil acara musyawarah sastrawan di Badan Bahasa Jakarta ? apakah bapak gembira dengan itu ?  atau mungkin sedikit kecewa ? semoga saja bapak bisa menceritaknnya di pertemuan selanjutnya.
Begini bapak dosenku yang selalu memberi ilmu. Bagi saya untuk masalah membaca saya tidak sukar, saya juga sudah membaca beberapa novel meskipun itu tentang cinta setidaknya itu modal awal saya untuk tidak malas membaca. hanya saja saya bingung jika menekuni bidang sesuatu harus mulai darimana dulu, apakah mulai dari koran ? novel ? atau bahkan cerpen anak-anak ? saya sebenarnya ingin seperti bapak yang tulisannya sudah masuk media masa mana saja. Saya juga ingin sekali mengobrol dengan bapak tentang bagaimana membuat puisi bagaimana membuat esai atau opini intinya saya ingin bisa menulis, untuk mengutarakan ini saya hanya bisa berbicara dalam hati mulut  dan tangan tidak bisa bekerja sama menyuarakannya. Malu yang saya rasakan untuk bertemu apa lagi meminta ilmu, saya juga pernah berfikiran ketika selesai perkuliahan menemui bapak dan meminta waktu untuk sekedar minum kopi dan mengutarakan isi hati, tapi apa daya hanya kata ah sudahlah yang ada di otak saya.
 Namun jika masalah berbicara, apalagi didepan kelas sebenarnya saya tidak terlalu menginkan karena menurut saya, iyaa memang setidaknya itu menambah nilai tapi entahlah terkadang rasa malas dan bingung ketika di depan untuk berbicara apa, itu salah satu alasannya. Bertanya di ddalam kelas pun saya bingung harus bertanya apa, karena saya tidak terbiasa untuk bertnya dalam situasi formal kecuali itu sangat mendesak dan saya masih sangat bingung dengan sesuatu.
Maaf juga pak, bagi saya membeli koran atau memborong koran dan apa saja itu hanya faktor malas saja mungkin itu yang membuat bapak harus memaksa kepada setiap mahasiswa. Karena saya yakin perintah bapak tak lekang dengan usaha bapak untuk meningkatkan rasa gemar membaca. Santai saja kami tidak mengomel apalagi sampai memecah piring, saya hanya tertawa sampai sebegitunya bapak bisa berfikiran.
Okelah pak surat ini sudah saya letakan di dalam amplop dan sudah saya segel dengan kertas minyak, maaf pak saya tidak sopan tapi saya hanya ingin tidak terlalu mainstream. Mengenai pertanyaan bapak apasih niatan kalian ingin bertahan hidup ? bagai saya niatan untuk bertahan hidup ingin menaikan derjat orang tua, saya tidak mau hanya berpangku tangan kepada mereka, saya ingin orang tua saya tidak di pandang sebelah mata hanya karena anaknya bersekolah di sekolah swasta, padahal tidak berdoasakan sekolah di swasta ? saya ingin menunjukan bahwa di swasta pun bisa meninggikan derajat mereka. Maaf pak saya terlalu lancang cerita ini. Selain itu juga saya berkeinginan menjadi yang leih baik dari sebelumnya. Jika motivasi saya kuliah, ya mungkin sama seperti yang saya ceritakan tadi. Kalo masalah berbicara didalam kelas, maaf pak saya selalu hitmat dalam mengikuti perkuliahan bapak, sampai-samapai suruh bertanya pun saya hanya menoleh kesamping kanan dan kekiri.
Bapak Setia Naka Andrian yang selalu memberi kami tugas dan hiburan, saya sudah membaca 2 buku novel yang pertama Destilasi Alkena karya Wiranegara dan yang ke dua Garis Waktu milik Fiersa Besari dalam kurun waktu satu minggu, kalo untuk koran saya sudah menyimak 3 koran dan jika majalah saya belum menyentuhnya sama sekali. Baiklah saya akan menuruti perintah bapak saya akan mencoba menggali diri saya, mencoba mencari apa sih yang keren didalam diri saya, apa sih yang bisa dibanggakan dalam diri saya, saya akan coba itu.
Di temani secangkir kopi dan beberapa batang rokok saya membalas surat bapak dengan sangat tenang, toh untuk apa terlalu dipikirkan ini hanya membalas surat bukan membuat esai atau opini. Maaf pak saya hanya bercanda. Sebelumnya saya ingin mengucapkan terimakasih kepada bapak yang rela memberikan waktunya untuk menulis surat ini, mungkin jika tidak ada surat seperti ini saya tidak bisa menyuarakan isi hati saya yang selalu teriak ingin bersanding dengan bapak meminta ilmu agar bisa menulis.
Harapan saya setelah ini saya bisa bertemu dengan bapak untuk ngaji ngopi ngudud dan apa itulah yang intinya itu, semoga bapak berkenan dan bapak bisa menanggapi apa isi balasan surat ini. Sepertinya saya juga sudah terlalu panjang membalas surat ini, toh yang bapak minimalkan sama dengan surat bapak, saya hanya menyeragamkan diri untuk tidak berlebih meskipun berlebih sangat diperbolehkan. Sebelum saya mengakhiri saya ingin bapak membaca tulisan ini karena saya malu jika di kelas untuk memberanikan diri maju kedepan menghampiri bapak dan meminta waktu bapak hanya untuk sharing masalah ini. Terimakasih Bapak Setia Naka Andrian seorang penyair dan Dosen Universitas PGRI Semarang



BERSAMA PETINGGINYA UPGRIS BERSASTRA
Oleh : Lazuardi Insan

Kegiatan UPGRIS BERSASTRA yang diadakan oleh Universitas PGRI Semarang pada tanggal 19 November 2016 di Balairung yang bertemakan “3 Buku 3 Pembaca 3 Kritikus dan 1 Pengarang” merupakan salah satu acara untuk menyambut datangnya bulan bahasa. Selain itu, acara ini juga bertujuan untuk menumbuhkan rasa peduli terhadap sastra di kalangan mahasiswa Upgris. Penuh sesak para mahasiswa dan para dosen yang datang untuk sekedar menikmati atau bahkan ikut berperan serta pada acara tersebut.
Band akustik Biscuittime salah satu jebolan dari UPGRIS ini juga mengisi acara sembari menunggu para tamu undangan hadir. Band yang digawangi Deska, Yongki, Icha juga turut mengapresiasi puisi karya Triyanto Triwikromo yaitu salah satu lirik puisinya dijadikan sebuah judul lagu untuk mini albumnya. Beberapa lagu mereka tembangkan dan disela-sela pentasnya biscuittime juga memberikan kuis yaitu bagi mahasiswa yang bisa menyanyikan salah satu lagu miliknya mendapatkan sebuah CD album Biscuittime.
Ketika Rektor Upgris menyanyikan sebuah lagu ciptaannya sendiri, itu adalah tanda bahwa acara telah dimulai.Terikan para penonton dan tepuk tangan menyambutnya dengan meriah. Selepasnya bapak Muhdi juga  menceritakan beberapa pengalamannya di bidang seni ketika dulu saat menjadi sutradara di masyarakatnya. Tak ketinggalan pula Rektor Upgris ini turut membacakan puisi salah satu karya Triyanto Triwikromo.
 Setelah itu Dekan FPBS Ibu Dra. Asropah, M. Pd  membacakan puisi ditemani para mahasiswa yang menari-nari disudut panggung. Wakil Rektor I Ibu Sri Suciati, M. Hum juga tak mau kalah bersaing dengan petinggi yang lainnya, namun kali ini berbeda, beliau bersama salah satu mahasiswa progdi Bahasa Inggris menembang langgam Jawa semua penonton yang ada di tempat itu seketika tercengang kemudian dilanjutkan dengan tepuk tangan.
Dalam acara tersebut juga menjelaskan salah satu karya beliau yaitu Anak-Anak Mengasah Pisau yang dijadikan sebagai lukisan oleh pelukis Yuswantoro Adi Dijadikan karya tritama oleh AS kurnia dijadikan sebuah lagu oleh pemusik Seno, Sosiawan LEAK menjadikannya sebuah teater sedangkan oleh Dedi Setiadi karya itu dijadikan sebuah sinetron yang skenarionya di tulis oleh pemilik karya. Itu baru salah satu saja karya beliau dan masih banyak lagi yang lainnya.
Sementara itu tiga tokoh yang tidak kalah penting duduk berdampingan diatas panggung untuk membedah buku karya Triyanto Triwikromo yaitu Dosen pascasarjana Upgris Nur Hidayat, cerpenis S Prasetyo Utomo, dan Staf Humas PGRI semarang Widyanuri eko Putra ditambah satu lagi sebagai moderator Kritikus sastra Bapak Drs. Harjito, M.Hum. yang menjabat sebagai ketua program studi pascasarjana Upgris. Awal bedah dimulai dari tuturan bapak Nur Hidayat yang senantiasa mengikuti karya-karya Triyanto ini karena pemilihan kata atau diksi yang tidak biasa.
Kemudian Pak Pras yang dulu sebagai kaka tingkat ketika menuntut ilmu di Universitas Negeri Semarang menyusul dengan bercerita tentang masa lalu Triyanto yang dulu terinspirasi kepada dirinya karena tulisan beliau ini sudah masuk dalam media masa. Saat itu juga Triyanto ini selalu meminta Pak Pras untuk mengoreksi karyanya sebelum dikirim untuk di publikasikan.
Giliran yang paling muda diantara ke empat orang yang berada diatas panggung yaitu Widyanuri Eko Putra. Beliau  tidak hanya mengkritisi atau membedah buku milik Triyanto melainkan beliau juga memberikan koleksi bukunya kepada mahasiswa yang bisa menjawab pertanyaan. Sedikit pembicaraan beliau tentang buku-buku Pak Tri yang berasal dari serapan sastra terjemahaan empat buku asing. Itu artinya sebuah buku yang berkualitas tidak hanya pemikiran saja namun ada buku lain yang dijadikan sebagai acuan.
Acara ini bukan semena-mena hanya membedah buku saja melainkan ada peran mahasiswa dan pelatih tari kreasi yang menyuguhkan garapannya. Beberapa orang mahasiswa berlenggok menari menyugguhkan hiburan dengan iringan musik serta lontaran kata puisi milik Pak Triyanto.
Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni selalu menyambut datangnya bulan bahasa dengan sangat meriah, bukan kali ini saja tahun-tahun yang lalu FPBS juga sudah menunjukan eksistensinya dalam memperingati bulan bahasa. Ini baru salah satu acara yang diselenggrakan dan nantinya akan ada lagi yang lebih meriah ketika puncak bulan bahasa pada tanggal 28 November 2016. Namun di acara kali ini pihak rektorat ikut serta mendukung jadi menambah kesan mewah dalam acara ini.
Universistas PGRI Semarang tidak pernah absen dalam menyambut parade bulan bahasa berbagai kegiatan dilakukan karena menyambut bulan bahasa merupakan hal wajib bagi universitas, Seharusnya tidak hanya ketika menyambut bulan bahasa saja mengadakan seperti ini bulan-bulan biasa juga sebaiknya  mempunyai acara  sendiri namun dengan tidak lepas akan bahasa sastara maupun budaya.
Menjadi contoh yang baik itu sangat menyenangkan semoga saja Upgris selalu berkarya dengan hal-hal yang baru yang bisa dijadikan inpirasi bagai yang lain agar terus bisa melestarikan sastra dikalangan manapun. Teruslah berkarya Upgris jadikan sesuatu menjadi sesuatu untuk bangsa dan negara ini.



           



UPGRIS BERPENTAS
Oleh Lazuardi insan

TEMPAT ramai namun terlihat sepi dengan cahaya lampu yang terlalu redup menerangi sudut panggung dan seorang lelaki berada diatasnya, ia bertingkah layaknya boneka yang telah diatur oleh pemiliknya, menangis dan berteriak sama halnya dengan orang setres.
Warna kuning dari cahaya lampu menghantarkan seseorang yang mengenakan ikat kepala menuju lelaki tersebut, ia duduk tanpa permisi lalu mengeluarkan kalimat tanya tanpa ada sebuah jeda, dengan muka lesu dan kusut memaksa lelaki yang tadi berteriak bercerita tentang apa yang ada dalam mimpinya. Sebuah tepukan kebahu diiringin suara tawa yang kemudian lenyap bersama kata penuh harap. Seketika mereka berdiri menggerakan tangan dan kaki mengucapkan janji  menegaskan dalam hati bahwa kita tak perlu bersedih hati.
Tepuk tangan bersanding dengan padamnya cahaya kuning, tak lama berselang sinar itu kembali terang bersama dua lakon bertubuh kecil berbadan gempal, ia bersuara tentang apa yang akan dilakukannya dengan nada lucu dan gerakan menggemaskan membuat penonton merasakan sebuah lelucon. Datang seorang lelaki lagi untuk lebih menghangatkan ruang Gedung pusat lantai 7 di Universitas PGRI Semarang. Entah apa yang terjadi cerita itu berlanjut ke tokoh yang tadi sedang mengucapakan janji, namun sekarang ia sendiri kuning lampu berpijar bak senyum mentari yang seakan memberikan semangat untuk menjalani hari, puluhan penonton bersorak ria menyambut datangnya tujuh wanita berparas mempesona yang seolah-olah terbang di udara, namun satu lelaki mendadak tercengang dan bersembunyi di sebuah batu buatan. Otaknya terus meneriakan untuk bisa menikahi satu dari tujuh perempuan itu, Cara yang sulit dilakukan oleh lelaki yang bersembunyi tadi. Berhasil, sekarang ia beristrikan satu dari tujuh wanita yang berparas mempesona. Bising suara penikmat drama mengiringi para lakon melanjutkan peran yang sedang dimainkan. Tiba-tiba senyap saat seorang perempuan berteriak menyebut nama sembari keluar dari gubug bambu yang berada disudut panggung, perasaan marah dan kecewa seakan menghantui perempuan itu, namun ada tangis dari seorang laki-laki yang tertunduk malu di hadapan perempuan itu, apa daya kata maaf dan rasa sesal tak membuat si perempuan berhenti melangkahkan kaki untuk beranjak pergi dari situasi seperti ini.
Lelaki itu terguling dan tiba-tiba saja ia kini berada di sebuah sungai tempat dimana perempuan tadi akan terbang menghempaskan diri kekayangan. Lalu pecah suasana kembali terjadi ketika sang perempuan mulai menghilang dari tempat pentas ditemani cahaya redup menandakan drama itu telah di tutup.

Berawal dari Dongeng.
Lelaki yang berdiri diatas panggung tampak gagah bersanding dengan ulasan kalimat-kalimat penjelas akan drama yang tadi telah di pentaskan. Para pelakon berasal dari mahasiswa UKM Teater Gema Universitas PGRI Semarang. UKM ini mampu mendatangkan hiburan untuk puluhan orang yang berada di tempat tersebut.
Tatanan lampu dengan alunan musik Jawa memberikan kesan tempo dulu karena drama yang di pentaskan mengangkat dari cerita rakyat yaitu Jaka Tarub yang mengisahkan seorang pemuda dari kalangan rakyat biasa hingga ia bisa menikahi seorang bidadari, namun atas kecerobohannya membuat Jaka Tarub ditinggal pergi. Sebenarnya ada dua pertunjukan yang diselenggarakan yaitu drama dan monolog namun saya hanya menuliskan tentang dramanya saja karena saat monolog saya sudah angkat kaki dari kampus UPGRIS. Pagelaran yang bertemakan “Pentas Jaka Tarub dan Pentas Monolog Balada Sumarah” dilaksanakan pada tanggal 4 Oktober 2016 pada pukul 15.00 dan 19.00 dengan harga tiket sepuluh ribu rupiah. Pagelaran ini merupakan bentuk pelatihan untuk menghadapi pekan seni mahasiswa di Kendari, Sulawesi Selatan. UKM Teater Gema Upgris adalah satu-satunya wakil dari Jawa Tengah yang ikut serta dalam kompetisi tersebut. Mereka akan bersaing dengan kampus-kampus lain di Indonesia karena pekan seni mahasiswa ini bersifat nasional.

Rasa dalam Pagelaran
Malam itu para pelakon drama melakukan gerakan sesuai naskah dengan sangat ekspresif membuat puluhan pasang mata merasa terhibur dengan adanya pagelaran ini. Dari segi keindahan pementasan, tata ruang dan cahaya lampu  menguatkan naskah serta gerak dan celotehan para lakon membuat penonton terhanyut dalam suasana komedi.
Tidak berlebihan jika saya menyatakan bahwa pertunjukan drama malam itu, sukses. Ruangan yang lumayan besar dimana drama itu dipentaskan mendadak sesak dipenuhi puluhan penonton. Sepertinya para penonton hanya berasal dari mahasiswa saja, pasalnya saya tidak melihat kalangan masyarakat umum yang menghadiri acara tersebut. Coba saja jika pementasan ini di publikasikan keranah masyarakat mungkin lebih menggeludak lagi para penonton yang datang.

Bagaimana pun drama yang di tampilkan, para pelakon malam itu mengesankan. Saya memberi pujian sekaligus selamat kepada teater gema yang menjadi satu-satunya wakil dari Jawa Tengah. Saya juga berterimakasih pada teater gema yang mampu memberikan hiburan bagi kalayak ramai khususnya mahasiswa. Selain itu saya juga berharap jika pagelaran ini sering-sering diadakan. Tidak hanya untuk hiburan, pemantasan drama ini juga bisa dijadikan sebuah bentuk perlawan terhadap suatu hal karena sekarang banyak cara untuk protes terhadap sesuatu.

Minggu, 18 Desember 2016

Apa yang dituliskan Setia Naka Andrian mengenai penghilangan UN atau penggantian UN dengan ujian-ujian lain saya menanggapinya dengan sangat setuju, mengapa demikian karena saya juga merasakan bagaimana dahulu begitu menakutkannya UN, terlebih lagi waktu sekolah dasar, sampai-sampai ibu saya pun menyuruh untuk mengikuti kegiatan les privat agar memperoleh nilai yang baik. Selain itu ada juga semacam politik gengsi atau mencari nama sekolah mana yang muridnya memperoleh nilai UN tertinggi berarti itu sekolah yang baik, padahal belum tentu karena gurunya pun bisa saja mencampuri urusan siswanya agar bisa menaikan derajat sekolahnya. Penulis juga mengatakan tentang seakan-akan tidak terlalu pentingnya mata pelajaran yang tidak masuk dalam ujian nasional padahalkan semua mata pelajaran itu penting toh belum tentu juga yang di UN kan menjadi dasar kita berkehidupan nanti. 
Mengenai pengganti UN jika ditiadakan mungkin pemerintah sudah mempunyai solusi sendiri mengenai itu, pada dasarnya kurikulum saja bisa berubah-ubah seiring dengan berjalannya waktu, mengapa UN tidak demikian, kita bisa saja meniru negara-negara lain yang menetukan kelulusan siswanya tidak menggunakan UN, tetapi negara tersebut masih saja bisa berkembang dalam dunia pendidikan dalam hal ini adalah negara Jepang.