Rabu, 21 Desember 2016

UPGRIS BERPENTAS
Oleh Lazuardi insan

TEMPAT ramai namun terlihat sepi dengan cahaya lampu yang terlalu redup menerangi sudut panggung dan seorang lelaki berada diatasnya, ia bertingkah layaknya boneka yang telah diatur oleh pemiliknya, menangis dan berteriak sama halnya dengan orang setres.
Warna kuning dari cahaya lampu menghantarkan seseorang yang mengenakan ikat kepala menuju lelaki tersebut, ia duduk tanpa permisi lalu mengeluarkan kalimat tanya tanpa ada sebuah jeda, dengan muka lesu dan kusut memaksa lelaki yang tadi berteriak bercerita tentang apa yang ada dalam mimpinya. Sebuah tepukan kebahu diiringin suara tawa yang kemudian lenyap bersama kata penuh harap. Seketika mereka berdiri menggerakan tangan dan kaki mengucapkan janji  menegaskan dalam hati bahwa kita tak perlu bersedih hati.
Tepuk tangan bersanding dengan padamnya cahaya kuning, tak lama berselang sinar itu kembali terang bersama dua lakon bertubuh kecil berbadan gempal, ia bersuara tentang apa yang akan dilakukannya dengan nada lucu dan gerakan menggemaskan membuat penonton merasakan sebuah lelucon. Datang seorang lelaki lagi untuk lebih menghangatkan ruang Gedung pusat lantai 7 di Universitas PGRI Semarang. Entah apa yang terjadi cerita itu berlanjut ke tokoh yang tadi sedang mengucapakan janji, namun sekarang ia sendiri kuning lampu berpijar bak senyum mentari yang seakan memberikan semangat untuk menjalani hari, puluhan penonton bersorak ria menyambut datangnya tujuh wanita berparas mempesona yang seolah-olah terbang di udara, namun satu lelaki mendadak tercengang dan bersembunyi di sebuah batu buatan. Otaknya terus meneriakan untuk bisa menikahi satu dari tujuh perempuan itu, Cara yang sulit dilakukan oleh lelaki yang bersembunyi tadi. Berhasil, sekarang ia beristrikan satu dari tujuh wanita yang berparas mempesona. Bising suara penikmat drama mengiringi para lakon melanjutkan peran yang sedang dimainkan. Tiba-tiba senyap saat seorang perempuan berteriak menyebut nama sembari keluar dari gubug bambu yang berada disudut panggung, perasaan marah dan kecewa seakan menghantui perempuan itu, namun ada tangis dari seorang laki-laki yang tertunduk malu di hadapan perempuan itu, apa daya kata maaf dan rasa sesal tak membuat si perempuan berhenti melangkahkan kaki untuk beranjak pergi dari situasi seperti ini.
Lelaki itu terguling dan tiba-tiba saja ia kini berada di sebuah sungai tempat dimana perempuan tadi akan terbang menghempaskan diri kekayangan. Lalu pecah suasana kembali terjadi ketika sang perempuan mulai menghilang dari tempat pentas ditemani cahaya redup menandakan drama itu telah di tutup.

Berawal dari Dongeng.
Lelaki yang berdiri diatas panggung tampak gagah bersanding dengan ulasan kalimat-kalimat penjelas akan drama yang tadi telah di pentaskan. Para pelakon berasal dari mahasiswa UKM Teater Gema Universitas PGRI Semarang. UKM ini mampu mendatangkan hiburan untuk puluhan orang yang berada di tempat tersebut.
Tatanan lampu dengan alunan musik Jawa memberikan kesan tempo dulu karena drama yang di pentaskan mengangkat dari cerita rakyat yaitu Jaka Tarub yang mengisahkan seorang pemuda dari kalangan rakyat biasa hingga ia bisa menikahi seorang bidadari, namun atas kecerobohannya membuat Jaka Tarub ditinggal pergi. Sebenarnya ada dua pertunjukan yang diselenggarakan yaitu drama dan monolog namun saya hanya menuliskan tentang dramanya saja karena saat monolog saya sudah angkat kaki dari kampus UPGRIS. Pagelaran yang bertemakan “Pentas Jaka Tarub dan Pentas Monolog Balada Sumarah” dilaksanakan pada tanggal 4 Oktober 2016 pada pukul 15.00 dan 19.00 dengan harga tiket sepuluh ribu rupiah. Pagelaran ini merupakan bentuk pelatihan untuk menghadapi pekan seni mahasiswa di Kendari, Sulawesi Selatan. UKM Teater Gema Upgris adalah satu-satunya wakil dari Jawa Tengah yang ikut serta dalam kompetisi tersebut. Mereka akan bersaing dengan kampus-kampus lain di Indonesia karena pekan seni mahasiswa ini bersifat nasional.

Rasa dalam Pagelaran
Malam itu para pelakon drama melakukan gerakan sesuai naskah dengan sangat ekspresif membuat puluhan pasang mata merasa terhibur dengan adanya pagelaran ini. Dari segi keindahan pementasan, tata ruang dan cahaya lampu  menguatkan naskah serta gerak dan celotehan para lakon membuat penonton terhanyut dalam suasana komedi.
Tidak berlebihan jika saya menyatakan bahwa pertunjukan drama malam itu, sukses. Ruangan yang lumayan besar dimana drama itu dipentaskan mendadak sesak dipenuhi puluhan penonton. Sepertinya para penonton hanya berasal dari mahasiswa saja, pasalnya saya tidak melihat kalangan masyarakat umum yang menghadiri acara tersebut. Coba saja jika pementasan ini di publikasikan keranah masyarakat mungkin lebih menggeludak lagi para penonton yang datang.

Bagaimana pun drama yang di tampilkan, para pelakon malam itu mengesankan. Saya memberi pujian sekaligus selamat kepada teater gema yang menjadi satu-satunya wakil dari Jawa Tengah. Saya juga berterimakasih pada teater gema yang mampu memberikan hiburan bagi kalayak ramai khususnya mahasiswa. Selain itu saya juga berharap jika pagelaran ini sering-sering diadakan. Tidak hanya untuk hiburan, pemantasan drama ini juga bisa dijadikan sebuah bentuk perlawan terhadap suatu hal karena sekarang banyak cara untuk protes terhadap sesuatu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar