UPGRIS BERPENTAS
Oleh Lazuardi insan
TEMPAT ramai namun terlihat
sepi dengan cahaya lampu yang terlalu redup menerangi sudut panggung dan seorang
lelaki berada diatasnya, ia bertingkah layaknya boneka yang telah diatur oleh
pemiliknya, menangis dan berteriak sama halnya dengan orang setres.
Warna kuning dari
cahaya lampu menghantarkan seseorang yang mengenakan ikat kepala menuju lelaki
tersebut, ia duduk tanpa permisi lalu mengeluarkan kalimat tanya tanpa ada
sebuah jeda, dengan muka lesu dan kusut memaksa lelaki yang tadi berteriak bercerita
tentang apa yang ada dalam mimpinya. Sebuah tepukan kebahu diiringin suara tawa
yang kemudian lenyap bersama kata penuh harap. Seketika mereka berdiri
menggerakan tangan dan kaki mengucapkan janji
menegaskan dalam hati bahwa kita tak perlu bersedih hati.
Tepuk tangan
bersanding dengan padamnya cahaya kuning, tak lama berselang sinar itu kembali
terang bersama dua lakon bertubuh kecil berbadan gempal, ia bersuara tentang
apa yang akan dilakukannya dengan nada lucu dan gerakan menggemaskan membuat
penonton merasakan sebuah lelucon. Datang seorang lelaki lagi untuk lebih
menghangatkan ruang Gedung pusat lantai 7 di Universitas PGRI Semarang. Entah
apa yang terjadi cerita itu berlanjut ke tokoh yang tadi sedang mengucapakan
janji, namun sekarang ia sendiri kuning lampu berpijar bak senyum mentari yang
seakan memberikan semangat untuk menjalani hari, puluhan penonton bersorak ria
menyambut datangnya tujuh wanita berparas mempesona yang seolah-olah terbang di
udara, namun satu lelaki mendadak tercengang dan bersembunyi di sebuah batu
buatan. Otaknya terus meneriakan untuk bisa menikahi satu dari tujuh perempuan
itu, Cara yang sulit dilakukan oleh lelaki yang bersembunyi tadi. Berhasil,
sekarang ia beristrikan satu dari tujuh wanita yang berparas mempesona. Bising
suara penikmat drama mengiringi para lakon melanjutkan peran yang sedang
dimainkan. Tiba-tiba senyap saat seorang perempuan berteriak menyebut nama
sembari keluar dari gubug bambu yang berada disudut panggung, perasaan marah
dan kecewa seakan menghantui perempuan itu, namun ada tangis dari seorang
laki-laki yang tertunduk malu di hadapan perempuan itu, apa daya kata maaf dan
rasa sesal tak membuat si perempuan berhenti melangkahkan kaki untuk beranjak
pergi dari situasi seperti ini.
Lelaki itu
terguling dan tiba-tiba saja ia kini berada di sebuah sungai tempat dimana
perempuan tadi akan terbang menghempaskan diri kekayangan. Lalu pecah suasana
kembali terjadi ketika sang perempuan mulai menghilang dari tempat pentas
ditemani cahaya redup menandakan drama itu telah di tutup.
Berawal dari Dongeng.
Lelaki yang
berdiri diatas panggung tampak gagah bersanding dengan ulasan kalimat-kalimat
penjelas akan drama yang tadi telah di pentaskan. Para pelakon berasal dari mahasiswa
UKM Teater Gema Universitas PGRI Semarang. UKM ini mampu mendatangkan hiburan
untuk puluhan orang yang berada di tempat tersebut.
Tatanan lampu
dengan alunan musik Jawa memberikan kesan tempo dulu karena drama yang di
pentaskan mengangkat dari cerita rakyat yaitu Jaka Tarub yang mengisahkan
seorang pemuda dari kalangan rakyat biasa hingga ia bisa menikahi seorang
bidadari, namun atas kecerobohannya membuat Jaka Tarub ditinggal pergi. Sebenarnya
ada dua pertunjukan yang diselenggarakan yaitu drama dan monolog namun saya
hanya menuliskan tentang dramanya saja karena saat monolog saya sudah angkat
kaki dari kampus UPGRIS. Pagelaran yang bertemakan “Pentas Jaka Tarub dan
Pentas Monolog Balada Sumarah” dilaksanakan pada tanggal 4 Oktober 2016 pada
pukul 15.00 dan 19.00 dengan harga tiket sepuluh ribu rupiah. Pagelaran ini merupakan
bentuk pelatihan untuk menghadapi pekan seni mahasiswa di Kendari, Sulawesi
Selatan. UKM Teater Gema Upgris adalah satu-satunya wakil dari Jawa Tengah yang
ikut serta dalam kompetisi tersebut. Mereka akan bersaing dengan kampus-kampus
lain di Indonesia karena pekan seni mahasiswa ini bersifat nasional.
Rasa dalam Pagelaran
Malam itu
para pelakon drama melakukan gerakan sesuai naskah dengan sangat ekspresif
membuat puluhan pasang mata merasa terhibur dengan adanya pagelaran ini. Dari
segi keindahan pementasan, tata ruang dan cahaya lampu menguatkan naskah serta gerak dan celotehan
para lakon membuat penonton terhanyut dalam suasana komedi.
Tidak berlebihan
jika saya menyatakan bahwa pertunjukan drama malam itu, sukses. Ruangan yang
lumayan besar dimana drama itu dipentaskan mendadak sesak dipenuhi puluhan
penonton. Sepertinya para penonton hanya berasal dari mahasiswa saja, pasalnya
saya tidak melihat kalangan masyarakat umum yang menghadiri acara tersebut.
Coba saja jika pementasan ini di publikasikan keranah masyarakat mungkin lebih
menggeludak lagi para penonton yang datang.
Bagaimana pun drama
yang di tampilkan, para pelakon malam itu mengesankan. Saya memberi pujian
sekaligus selamat kepada teater gema yang menjadi satu-satunya wakil dari Jawa
Tengah. Saya juga berterimakasih pada teater gema yang mampu memberikan hiburan
bagi kalayak ramai khususnya mahasiswa. Selain itu saya juga berharap jika
pagelaran ini sering-sering diadakan. Tidak hanya untuk hiburan, pemantasan
drama ini juga bisa dijadikan sebuah bentuk perlawan terhadap suatu hal karena
sekarang banyak cara untuk protes terhadap sesuatu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar