BERSAMA
PETINGGINYA UPGRIS BERSASTRA
Oleh
: Lazuardi Insan
Kegiatan
UPGRIS BERSASTRA yang diadakan oleh Universitas PGRI
Semarang pada tanggal 19 November 2016 di Balairung yang bertemakan “3 Buku 3
Pembaca 3 Kritikus dan 1 Pengarang” merupakan salah satu acara untuk menyambut
datangnya bulan bahasa. Selain itu, acara ini juga bertujuan untuk menumbuhkan
rasa peduli terhadap sastra di kalangan mahasiswa Upgris. Penuh sesak para
mahasiswa dan para dosen yang datang untuk sekedar menikmati atau bahkan ikut
berperan serta pada acara tersebut.
Band akustik Biscuittime salah satu jebolan dari UPGRIS
ini juga mengisi acara sembari menunggu para tamu undangan hadir. Band yang digawangi
Deska, Yongki, Icha juga turut mengapresiasi puisi karya Triyanto Triwikromo
yaitu salah satu lirik puisinya dijadikan sebuah judul lagu untuk mini
albumnya. Beberapa lagu mereka tembangkan dan disela-sela pentasnya biscuittime
juga memberikan kuis yaitu bagi mahasiswa yang bisa menyanyikan salah satu lagu
miliknya mendapatkan sebuah CD album Biscuittime.
Ketika Rektor Upgris menyanyikan sebuah lagu ciptaannya
sendiri, itu adalah tanda bahwa acara telah dimulai.Terikan para penonton dan
tepuk tangan menyambutnya dengan meriah. Selepasnya bapak Muhdi juga menceritakan beberapa pengalamannya di bidang
seni ketika dulu saat menjadi sutradara di masyarakatnya. Tak ketinggalan pula
Rektor Upgris ini turut membacakan puisi salah satu karya Triyanto Triwikromo.
Setelah itu Dekan
FPBS Ibu Dra. Asropah, M. Pd membacakan puisi ditemani para mahasiswa yang
menari-nari disudut panggung. Wakil Rektor I Ibu Sri Suciati, M.
Hum juga tak mau kalah bersaing
dengan petinggi yang lainnya, namun kali ini berbeda, beliau bersama salah satu
mahasiswa progdi Bahasa Inggris menembang langgam Jawa semua penonton yang ada
di tempat itu seketika tercengang kemudian dilanjutkan dengan tepuk tangan.
Dalam
acara tersebut juga menjelaskan salah satu karya beliau
yaitu Anak-Anak Mengasah Pisau yang dijadikan sebagai lukisan oleh pelukis
Yuswantoro Adi Dijadikan karya tritama oleh AS kurnia dijadikan sebuah lagu
oleh pemusik Seno, Sosiawan LEAK menjadikannya sebuah teater sedangkan oleh
Dedi Setiadi karya itu dijadikan sebuah sinetron yang skenarionya di tulis oleh
pemilik karya. Itu baru salah satu saja karya beliau dan masih banyak lagi yang
lainnya.
Sementara itu tiga tokoh yang tidak kalah penting duduk
berdampingan diatas panggung untuk membedah buku karya Triyanto Triwikromo yaitu
Dosen pascasarjana Upgris Nur Hidayat, cerpenis S Prasetyo Utomo, dan Staf Humas PGRI semarang Widyanuri eko Putra ditambah satu lagi sebagai moderator Kritikus sastra
Bapak Drs. Harjito, M.Hum. yang menjabat sebagai ketua program studi
pascasarjana Upgris. Awal bedah dimulai dari tuturan bapak Nur Hidayat yang
senantiasa mengikuti karya-karya Triyanto ini karena pemilihan kata atau diksi
yang tidak biasa.
Kemudian Pak Pras yang dulu sebagai kaka tingkat ketika
menuntut ilmu di Universitas Negeri Semarang menyusul dengan bercerita tentang
masa lalu Triyanto yang dulu terinspirasi kepada dirinya karena tulisan beliau
ini sudah masuk dalam media masa. Saat itu juga Triyanto ini selalu meminta Pak
Pras untuk mengoreksi karyanya sebelum dikirim untuk di publikasikan.
Giliran yang paling muda diantara ke empat orang yang
berada diatas panggung yaitu Widyanuri Eko Putra. Beliau tidak hanya mengkritisi atau membedah buku
milik Triyanto melainkan beliau juga memberikan koleksi bukunya kepada
mahasiswa yang bisa menjawab pertanyaan. Sedikit pembicaraan beliau tentang buku-buku Pak Tri yang berasal dari serapan sastra terjemahaan empat buku asing.
Itu artinya sebuah buku yang berkualitas tidak
hanya pemikiran saja namun ada buku lain yang dijadikan
sebagai acuan.
Acara ini bukan semena-mena hanya membedah buku saja
melainkan ada peran mahasiswa dan pelatih tari kreasi yang menyuguhkan garapannya.
Beberapa orang mahasiswa berlenggok menari menyugguhkan hiburan dengan
iringan musik serta lontaran kata puisi milik Pak Triyanto.
Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni selalu menyambut
datangnya bulan bahasa dengan sangat meriah, bukan kali ini saja tahun-tahun
yang lalu FPBS juga sudah menunjukan eksistensinya dalam memperingati bulan
bahasa. Ini baru salah satu acara yang diselenggrakan dan nantinya akan ada
lagi yang lebih meriah ketika puncak bulan bahasa pada tanggal 28 November
2016. Namun di acara kali ini pihak rektorat ikut serta mendukung jadi menambah
kesan mewah dalam acara ini.
Universistas PGRI Semarang tidak pernah absen dalam
menyambut parade bulan bahasa berbagai kegiatan dilakukan karena menyambut
bulan bahasa merupakan hal wajib bagi universitas, Seharusnya tidak hanya
ketika menyambut bulan bahasa saja mengadakan seperti ini bulan-bulan biasa
juga sebaiknya mempunyai acara sendiri namun dengan tidak lepas akan bahasa
sastara maupun budaya.
Menjadi contoh yang baik itu sangat menyenangkan semoga
saja Upgris selalu berkarya dengan hal-hal yang baru yang bisa dijadikan
inpirasi bagai yang lain agar terus bisa melestarikan sastra dikalangan
manapun. Teruslah berkarya Upgris jadikan sesuatu menjadi sesuatu untuk bangsa
dan negara ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar