Rabu, 21 Desember 2016

BERSAMA PETINGGINYA UPGRIS BERSASTRA
Oleh : Lazuardi Insan

Kegiatan UPGRIS BERSASTRA yang diadakan oleh Universitas PGRI Semarang pada tanggal 19 November 2016 di Balairung yang bertemakan “3 Buku 3 Pembaca 3 Kritikus dan 1 Pengarang” merupakan salah satu acara untuk menyambut datangnya bulan bahasa. Selain itu, acara ini juga bertujuan untuk menumbuhkan rasa peduli terhadap sastra di kalangan mahasiswa Upgris. Penuh sesak para mahasiswa dan para dosen yang datang untuk sekedar menikmati atau bahkan ikut berperan serta pada acara tersebut.
Band akustik Biscuittime salah satu jebolan dari UPGRIS ini juga mengisi acara sembari menunggu para tamu undangan hadir. Band yang digawangi Deska, Yongki, Icha juga turut mengapresiasi puisi karya Triyanto Triwikromo yaitu salah satu lirik puisinya dijadikan sebuah judul lagu untuk mini albumnya. Beberapa lagu mereka tembangkan dan disela-sela pentasnya biscuittime juga memberikan kuis yaitu bagi mahasiswa yang bisa menyanyikan salah satu lagu miliknya mendapatkan sebuah CD album Biscuittime.
Ketika Rektor Upgris menyanyikan sebuah lagu ciptaannya sendiri, itu adalah tanda bahwa acara telah dimulai.Terikan para penonton dan tepuk tangan menyambutnya dengan meriah. Selepasnya bapak Muhdi juga  menceritakan beberapa pengalamannya di bidang seni ketika dulu saat menjadi sutradara di masyarakatnya. Tak ketinggalan pula Rektor Upgris ini turut membacakan puisi salah satu karya Triyanto Triwikromo.
 Setelah itu Dekan FPBS Ibu Dra. Asropah, M. Pd  membacakan puisi ditemani para mahasiswa yang menari-nari disudut panggung. Wakil Rektor I Ibu Sri Suciati, M. Hum juga tak mau kalah bersaing dengan petinggi yang lainnya, namun kali ini berbeda, beliau bersama salah satu mahasiswa progdi Bahasa Inggris menembang langgam Jawa semua penonton yang ada di tempat itu seketika tercengang kemudian dilanjutkan dengan tepuk tangan.
Dalam acara tersebut juga menjelaskan salah satu karya beliau yaitu Anak-Anak Mengasah Pisau yang dijadikan sebagai lukisan oleh pelukis Yuswantoro Adi Dijadikan karya tritama oleh AS kurnia dijadikan sebuah lagu oleh pemusik Seno, Sosiawan LEAK menjadikannya sebuah teater sedangkan oleh Dedi Setiadi karya itu dijadikan sebuah sinetron yang skenarionya di tulis oleh pemilik karya. Itu baru salah satu saja karya beliau dan masih banyak lagi yang lainnya.
Sementara itu tiga tokoh yang tidak kalah penting duduk berdampingan diatas panggung untuk membedah buku karya Triyanto Triwikromo yaitu Dosen pascasarjana Upgris Nur Hidayat, cerpenis S Prasetyo Utomo, dan Staf Humas PGRI semarang Widyanuri eko Putra ditambah satu lagi sebagai moderator Kritikus sastra Bapak Drs. Harjito, M.Hum. yang menjabat sebagai ketua program studi pascasarjana Upgris. Awal bedah dimulai dari tuturan bapak Nur Hidayat yang senantiasa mengikuti karya-karya Triyanto ini karena pemilihan kata atau diksi yang tidak biasa.
Kemudian Pak Pras yang dulu sebagai kaka tingkat ketika menuntut ilmu di Universitas Negeri Semarang menyusul dengan bercerita tentang masa lalu Triyanto yang dulu terinspirasi kepada dirinya karena tulisan beliau ini sudah masuk dalam media masa. Saat itu juga Triyanto ini selalu meminta Pak Pras untuk mengoreksi karyanya sebelum dikirim untuk di publikasikan.
Giliran yang paling muda diantara ke empat orang yang berada diatas panggung yaitu Widyanuri Eko Putra. Beliau  tidak hanya mengkritisi atau membedah buku milik Triyanto melainkan beliau juga memberikan koleksi bukunya kepada mahasiswa yang bisa menjawab pertanyaan. Sedikit pembicaraan beliau tentang buku-buku Pak Tri yang berasal dari serapan sastra terjemahaan empat buku asing. Itu artinya sebuah buku yang berkualitas tidak hanya pemikiran saja namun ada buku lain yang dijadikan sebagai acuan.
Acara ini bukan semena-mena hanya membedah buku saja melainkan ada peran mahasiswa dan pelatih tari kreasi yang menyuguhkan garapannya. Beberapa orang mahasiswa berlenggok menari menyugguhkan hiburan dengan iringan musik serta lontaran kata puisi milik Pak Triyanto.
Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni selalu menyambut datangnya bulan bahasa dengan sangat meriah, bukan kali ini saja tahun-tahun yang lalu FPBS juga sudah menunjukan eksistensinya dalam memperingati bulan bahasa. Ini baru salah satu acara yang diselenggrakan dan nantinya akan ada lagi yang lebih meriah ketika puncak bulan bahasa pada tanggal 28 November 2016. Namun di acara kali ini pihak rektorat ikut serta mendukung jadi menambah kesan mewah dalam acara ini.
Universistas PGRI Semarang tidak pernah absen dalam menyambut parade bulan bahasa berbagai kegiatan dilakukan karena menyambut bulan bahasa merupakan hal wajib bagi universitas, Seharusnya tidak hanya ketika menyambut bulan bahasa saja mengadakan seperti ini bulan-bulan biasa juga sebaiknya  mempunyai acara  sendiri namun dengan tidak lepas akan bahasa sastara maupun budaya.
Menjadi contoh yang baik itu sangat menyenangkan semoga saja Upgris selalu berkarya dengan hal-hal yang baru yang bisa dijadikan inpirasi bagai yang lain agar terus bisa melestarikan sastra dikalangan manapun. Teruslah berkarya Upgris jadikan sesuatu menjadi sesuatu untuk bangsa dan negara ini.



           



Tidak ada komentar:

Posting Komentar